…
| Dari: |
Pesantren Virtual
… |
|
| Kepada: | pesantren@yahoogroups.com |
Pesantren Virtual – “Pondok Pesantren era Digital”Website: http://www.pesantre nvirtual. com
Informasi: info@pesantrenvirtu al.com
Konsultasi: konsultasi@pesantre nvirtual. co
Pengajian Memahami Jiwa Manusia
Manusia, dalam paradigma Barat postmodernisme; bagi Karl Marx disetir oleh perutnya (ekonomi) dan bagi Sigmund Freud oleh libido seksnya. Ketika berhijrah di abad ke 7 M, Nabi Muhammad saw. telah menyinggung temuan Marx dan Freud ini. Orang berhijrah itu disetir oleh tiga orientasi : seks, materi dan idealisme atau keimanan (lillah wa rasulihi). Artinya, manusia itu bisa jadi seharga dorongan perutnya, atau dorongan seksualnya dan dapat menjadi sangat idealis, meninggalkan kedua dorongan jiwa hewani dan nabati itu.
Jadi semua perilaku manusia hakekatnya disetir oleh jiwa atau nafs-nya. Tapi jiwa mempunyai banyak anggota, yang oleh al-Ghazzali disebut tentara hati (junud al-qalbi). Anggota jiwa dalam al-Qur’an diantaranya adalah qalb (hati), ruh (roh), aql (akal) dan iradah (kehendak) dsb. Al-Qur’an menyebut kata nafs sebanyak 43 kali, 17 kali kata qalb-qulub, 24 kali kata ta’aqilun (berakal), dan 6 kali kata ruh-arwah. Itulah, modal manusia untuk hidup di dunia, yaitu sinergi semua, buka independensi masing-masing anggotanya.
Nabi menjelaskan peran qalb (hati) dalam hidup manusia. Menurutnya, aspek penentu hakekat manusia adalah segumpal darah (mudghah), yang disebut qalb (hati). Gumpalan itulah yang menjadi penentu kesalehan dan kejahatan jasad manusia (HR. Sahih Bukhari). Karena begitu menentukannya fungsi hati itulah Allah hanya melihat hati manusia dan tidak melihat penampilan dan hartanya. (HR. Ahmad ibn Hanbal). Sejatinya, hati adalah wajah lain dari nafs (jiwa), maka dari itu hati atau jiwa manusia itu bertingkat-tingkat. Para ulama menemukan tujuh tingkatan jiwa dari dalam al-Qur’an:
Pertama, nafs al-ammarah bi al-su’, atau nafsu pendorong kejahatan. Ini adalah tingkat nafs paling rendah yang melahirkan sifat-sifat seperti takabbur, kerakusan, kecemburuan, nafsu syahwat, ghibah, bakhil dsb. Nafsu ini harus diperangi.
Kedua, nafs al-lawwamah. Ini adalah jiwa yang memiliki tingkat kesadaran awal melawan nafs yang pertama. Dengan adanya bisikan dari hatinya, jiwa menyadari kelemahannya dan kembali kepada kemurniannya. Jika ini berhasil maka ia akan dapat meningkatkan diri kepada tingkat diatasnya.
Tingkat ketiga adalah Nafs al-Mulhamah atau jiwa yang terilhami. Ini adalah tingkat jiwa yang memiliki tindakan dan kehendak yang tinggi. Jiwa ini lebih selektif dalam menyerap prinsip-prinsip. Ketika jiwa ini merasa terpuruk kedalam kenistiaan, segera akan terilhami untuk mensucikan amal dan niatnya.
Keempat, Nafs al-mutma’innah atau jiwa yang tenang. Jiwa ini telah mantap imannya dan tidak mendorong perilaku buruk. Jiwa yang tenang yang telah menomor duakan nikmat materi.
Kelima, Nafs al-Radhiyah atau jiwa yang ridha. Pada tingkatan ini jiwa telah ikhlas menerima keadaan dirinya. Rasa hajatnya kepada Allah begitu besar. Jiwa inilah yang diibaratkan dalam doa: Ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi (Tuhanku engkau tujuanku dan ridhaMu adalah kebutuhanku) .
Keenam, Nafs al-Mardhiyyah, adalah jiwa yang berbahagia. Tidak ada lagi keluhan, kemarahan, kekesalan. Perilakunya tenang, dorongan perut dan syhawatnya tidak lagi bergejolak dominan.
Ketujuh, Nafs al-Safiyah adalah jiwa yang tulus murni. Pada tingkat ini seseorang dapat disifati sebagai Insan Kamil atau manusia sempurna. Jiwanya pasrah pada Allah dan mendapat petunjukNya. Jiwanya sejalan dengan kehendakNya. Perilakunya keluar dari nuraninya yang paling dalam dan tenang.
Begitulah jiwa manusia. Ada pergulatan antara jiwa hewani yang jahat dengan jiwa yang tenang. Ada peningkatan pada jiwa-jiwanya yang tenang itu. Sahabat Rasulullah saw. Sufyan al-Thawri pernah mengatakan bahwa beliau tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih kuat dari nafsunya; terkadang nafsu itu memusuhinya dan terkadang membantunya. Ibn Taymiyyah menggambarkan pergulatan itu bersumber dari dua bisikan: bisikan syetan (lammat a-syaitan) dan bisikan malaikat (lammat al-malak).
Perang melawan nafsu jahat banyak caranya. Sahabat Nabi Yahya ibn Mu’adh al-Razi memberikan tipsnya. Ada empat pedang untuk memerangi nafsu jahat: makanlah sedikit, tidurlah sedikit, bicaralah sedikit dan sabarlah ketika orang melukaimu… maka nafs atau ego itu akan menuruti jalan ketaatan, seperti penunggang kuda dalam medan perang. Memerangi nafsu jahat ini menurut Nabi adalah jihad. Sabdanya “Pejuang adalah orang yang memperjuangkan nafs-nya dalam mentaati Allah” (al-Mujahidu man jahada nafsahu fi ta’at Allah `azza wa jalla). (HR.Tirmidhi, Ibn Majah, Ibn Hibban, Tabrani, Hakim dsb).
Kejahatan diri dalam al-Qur’an juga dianggap penyakit
Ýöí ÞõáõæÈöåöãú ãóÑóÖñ ÝóÒóÇÏóåõãõ Çááøóåõ ãóÑóÖðÇ æóáóåõãú ÚóÐóÇÈñ Ãóáöíãñ ÈöãóÇ ßóÇäõæÇ íóßúÐöÈõæäó (10)
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta (QS 2:10).
Sementara Nabi mengajarkan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Para ulama pun lantas berfikir kreatif. Ayat-ayat dan ajaran-ajaran Nabi pun dirangkai diperkaya sehingga membentuk struktur pra-konsep. Dari situ menjadi struktur konsep dan akhirnya menjadi disiplin ilmu.
Ilmu tentang jiwa atau nafs itu pun lahir dan disebut Ilm-al Nafs, atau Ilm-al Nafsiyat (Ilmu tentang Jiwa). Ketika Ilmu al-Nafs berkaitan dengan ilmu kedokteran (tibb), maka lahirlah istilah al-tibb al-ruhani (kesehatan jiwa) atau tibb al-qalb (kesehatan mental). Tidak heran jika penyakit gangguan jiwa diobati melalui metode kedokteran yang dikenal dengan istilah al-Ilaj al-nafs (psychoteraphy) .
Dalam Ilmu al-Nafs ditemukan bahwa raga dan jiwa berkaitan erat, demikian pula penyakitnya. Psikolog Muslim asal Persia Abu Zayd Ahmed ibn Sahl al-Balkhi pada abad ke 10 (850-934), menemukan teori bahwa penyakit raga berkaitan dengan penyakit jiwa. Alasannya, manusia tersusun dari jiwa dan raga. Manusia tidak dapat sehat tanpa memiliki keserasian jiwa dan raga. Jika badan sakit, jiwa tidak mampu berfikir dan memahami, dan akan gagal menikmati kehidupan. Sebaliknya, jika nafs atau jiwa itu sakit maka badannya tidak dapat merasakan kesenangan hidup. Sakit jiwa lama kelamaan dapat menjadi sakit fisik. Itulah sebabnya ia kecewa pada dokter yang hanya fokus pada sakit badan dan meremehkan sakit mental. Maka dalam bukunya Masalih al-Abdan wa al-Anfus, ia mengenalkan istilah al-Tibb al-Ruhani (kedokteran ruhani).
Jadi, hakekatnya manusia yang dikuasai oleh dorongan nafsu hewani dan nabati saja, boleh jadi sedang sakit. Manusia sehat adalah manusia yang nafsunya dikuasai oleh akalnya, Hatinya (qalb) untuk taat pada Tuhannya. Itulah insan kamil yang memiliki jiwa yang tenang, yang kembali pada Tuhan dan masuk surganya dengan ridho dan diridhoi. Yang senantiasa menyelaraskan antara fikir dan dzikir, antara akal dan wahy. Itulah manusia yang selama hidupnya menjadi sinar cahaya (misykat) bagi umat manusia.
Oleh: Ustadz Hamdab Maghribi, Lc
- New Members 41
———————-
Catatan: Ini adalah e-mail berlangganan. Anda mendapatkan materi ini karena telah mendaftar di mailing list pesantren@yahoogroups.com. Untuk berhenti: kirim email pesantren-unsubscribe@yahoogroups.com
[ www.PesantrenVirtual.com ]
Hak cipta © 1999-2003 PesantrenVirtual.com. Informasi: info@pesantrenvirtual.com
Kajian Fiqh: Mengeluarkan Zakat Fitrah dalam bentuk Uang
Masih banyak pertanyaan yang masuk ke meja redaksi seputar bolehkah mengeluarkan zakat fitrah dengan uang senilai beras 2,5kg? Bahkan di sebagian masyarakat kita hal itu masih menjadi polemik antara boleh dan tidak.
Ibnu Mundzir dalam ensiklopedia Ijma’ mengatakan para ulama konsensus bahwa zakat fitrah sah dengan membayar gandum atau kurma seberat 1 sha’ (2,5 kg).
Dalam hadist riwayat Ibnu Umar r.a. Rasulullah s.a.w. memerintahkan zakat fitrah sebanyak 1 shah’ kurma atau gandum kepada orang merdeka, hamba sahaya, laki-laki, perempuan, orang tua dan anak-anak dari kaum muslimin dan beliau memerintahkan agar zakat tersebut dibayarkan sebelum kaum muslimin menjalankan sholat ied. (H.R. Bukhari).
Hadist tersebut diriwayatkan dalam versi lain dengan tambahan “Cukupilah kebutuhan mereka sehingga mereka tidak meminta-minta di hari idul fitri”. Tambahan ini diriwayatkan oleh Dar Quthni, Baihaqi, Hakim dan Ibnu Addi. Menurut Ibnu Hajar semua riwayat tersebut lemah.
Dari beberapa hadist tentang zakat fitrah yang ada, para ulama sepakat mengatakan sah hukumnya mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan pokok seperti gandum atau beras atau bahan makanan lainnya.
Bolehkah mengeluarkan zakt fitrah dalam bentuk mata uang senilai satu sha’ bahan makanan?
Terjadi perbedaan pendapat di sini. Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad mengatakan zakat fitrah hanya boleh dibayar dalam bentuk bahan makanan pokok masyarakat setempat. Mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk mata uang tidak sah, kecuali dengan mekanisme mewakilkan untuk membeli bahan makanan. Jadi pada saat memberikan uang kepada amil, tujuannya adalah mewakilkam kepada amil untuk membeli bahan makanan lalu disalurkan kepada mustahiq.
Alasan pendapat ini adalah hadist di atas yang menyebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. memerintahkan mengeluarkan zakat dalam bentuk bahan makanan.
Imam Hanafi berpendapat mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang senilai bahan makanan hukumnya sah. Abu Ja’far, salah seorang ulama Hanafi bahkan mengatakan membayar zakat fitrah dalam bentuk mata uang lebih utama daripada dalam bentuk bahan makanan, alasannya karena itu lebih dibutuhkan kaum fakir miskin dalam banyak kasus. Pendapat kedua ini menggunakan dalil riwayat tambahan di atas bahwa tujuan zakat fitrah adalah agar kaum fakir miskin tidak meminta-minta di hari idul fitri, itu dapat diwujudkan dengan membayar zakat dalam bentuk uang juga.
Sebagian ulama mengatakan dalam kondisi sangat dibutuhkan atau darurat, mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang diperbolehkan.
Para ulama yang mendukung pendapat imam Hanafi ini adalah Umar bin Abdul Aziz, Tsauri, Hasan Basri. Ibnu Taimiah dan Ibnu Qayyim dari ulama Hanbali juga mendukung pendapat ini.
Faktor-faktor Penyulut Radikalisme Agama
Oleh: Ustadz Muladi Mughni, Lc.
Berikut ini akan saya sampaikan enam faktor yang dapat menyulut dan
memunculkan aksi terorisme-radikalisme. Mengingat Rasulullah Saw sangat
mewanti-wanti umat Islam untuk tidak terjebak pada tindakan ekstremisme
(at-tatharuf al-diniy), berlebihan (ghuluw), berpaham sempit (dhayyiq),
kaku (tanathu’/rigid), dan keras (tasyaddud).
I. Faktor Pemikiran:
Merebaknya dua trend paham yang ada dalam masyarakat Islam, yang pertama
menganggap bahwa agama merupakan penyebab kemunduran ummat Islam. Sehingga
jika ummat ingin unggul dalam mengejar ketertinggalannya maka ia harus
melepaskan baju agama yang ia miliki saat ini. Pemikiran ini merupakan
produk sekularisme yang secara pilosofi anti terhadap agama.
Sedang pemikiran yang kedua adalah mereflesikan penentangannya terhadap
alam relaitas yang dianggapnya sudah tidak dapat ditolerir lagi, dunia
saat ini dipandanganya tidak lagi akan mendatangkan keberkahan dari Allah
Swt, penuh dengan kenistaan, sehingga satu-satunya jalan selamat hanyalah
kembali kepada agama. Namun jalan menuju kepada agama itu dilakukan dengan
cara-cara yang sempit, keras, kaku dan memusuhi segala hal yang berbau
modernitas. Pemikiran ini merupakan anak kandung dari pada paham
fundamentalisme.
Kedua corak pemikiran inilah yang jika tumbuh subur dimasyarakat akan
melahirkan tindakan-tindakan yang kontra produktif bagi bangsa bahkan
agama yang dianutnya. Kedua trend pemikiran yang satunya menolak agama dan
yang kedua mengajak kepada paham agama yang keras, justru akan melahirkan
reaksi yang bertentangan dengan misi diciptakannya manusia oleh Allah Swt
di semesta ini sebagai mahluk yang seharusnya mendatangkan kemakmuran
dunia.
Di samping itu, banyaknya sekelompok orang yang lebih memilih memperdalami
agama, namun tidak berdasarkan sumber yang otentik, ataupun ulama yang
benar-benar memiliki pemahaman agama yang luas dan benar (rusukh).
Terkadang sumber bacaannya adalah buku-buku terjemahan yang kurang dapat
dipertangungjawabkan, menerima ilmu dari orang yang pemahaman agamanya
sangat dangkal. Ahli kimia berbicara al-Qur’an, ahli kedokteran
berbicara tafsir, ahli teknik bom berbicara fiqh jihad.
Apa jadinya kesimpulan yang mereka keluarkan. Padahal al-Quran, tafsir,
dan fiqh jihad memiliki karakteristik dan syarat-syarat yang sangat teliti
dan khusus dan harus tepat sesuai fungsi dan kegunaannya. Hal itu sama
saja, dengan apa jadinya jika seorang ahli agama berbicara kedokteran,
berbicara pertanian, teknik mesin dan lain-lain.
Maka memahami sesuatu ilmu termasuk agama harus berdasarkan dari sumber
dan ahlinya yang otentik, jika tidak penyelewengan-penyelewengan
kesimpulan yang dijelmakan melalui aksi akan berakibat fatal bagi manusia
itu sendiri.
II. Faktor Ekonomi :
William Nock pengarang buku “Perwajahan Dunia Baru”
mengatakan: Terorisme yang belakangan ini marak muncul merupakan reaksi
dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di dunia”. Liberalisme ekonomi
yang mengakibatkan perputaran modal hanya bergulir dan dirasakan bagi yang
kaya saja, mengakibatkan jurang yang sangat tajam kepada yang miskin. Jika
pola ekonomi seperti itu terus berlangsung pada tingkat global, maka yang
terjadi reaksinya adalah terorisme internasional. Namun jika pola ekonomi
seperti ini diterapkan pada tingkat Negara tertentu, maka akan memicu
tindakan terorisme nasional.
Karena boleh jadi problem kemiskinan, pengangguran dan keterjepitan
ekonomi dapat mengubah pola pikir seseorang dari yang sebelumnya baik,
menjadi orang yang sangat kejam dan dapat melakukan apa saja, termasuk
melakukan terror.
Sangat tepat jika kita renungkan hadits nabi yang mengatakan, “Kaada
al-Faqru an yakuuna Kufran”. Hampir-hampir saja suatu kefakiran
dapat meyeret orangnya kepda tindakan kekufuran”. Bukankan tindakan
membunuh, melukai, meledakkan diri, meneror suatu tindakan yang dekat
dengan kekufuran.?
III. Faktor Politik:
Stabilitas politik yang diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang
berkeadilan bagi rakyat adalah cita-cita semua Negara. Kehadiran para
pemimpin yang adil, berpihak pada rakyat, tidak semata hobi bertengkar dan
menjamin kebebasan dan hak-hak rakyat, tentu akan melahirkan kebanggaan
dari ada anak negeri untuk selalu membela dan memperjuangkan negaranya.
Mereka akan sayang dan menjaga kehormatan negaranya baik dari dalam maupun
dar luar.
Namun sebaliknya jika politik yang dijalankan adalah politik kotor,
politik yang hanya berpihak pada pemilik modal, kekuatan-kekuatan asing,
bahkan politik pembodohan rakyat, maka kondisi ini lambat laun akan
melahirkan tindakan skeptis masyarakat. Akan mudah muncul
kelompok-kelompok atas nama yang berbeda baik politik, agama ataupun
sosial yang mudah saling menghancurkan satu sama lainnya.
Bukankan kita pernah membaca sejarah lahirnya garakan khawarij pada masa
kepemimpinan Ali bin Abi Thalib RA. yang merupakan mascot gerakan
terorisme masa lalu yang juga disebabkan oleh munculnya stigma
ketidakstabilan dan ketidakadilan politik pada waktu itu. Sehingga
munculah kelompok-kelompok yang saling mengklaim paling benar, bahkan
saling mengkafirkan satu sama lainnya. Tentu kita tidak ingin sejarah itu
terulang kembali saat ini.
IV. Faktor Sosial:
Diantara faktor munculnya pemahaman yang menyimpang adalah adanya kondisi
konflik yang sering terjadi di dalam masyarakat. Banyaknya perkara-perkara
yang menyedot perhatian massa yang berhujung pada tindakan-tindakan
anarkis, pada akhirnya melahirkan antipati sekelompok orang untuk bersikap
bercerai dengan masyarakat. Pada awalnya sikap berpisah dengan masyarakat
ini diniatkan untuk menghindari kekacauan yang terjai. Namun lama kelamaan
sikap ini berubah menjadi sikap antipati dan memusuhi masyarakat itu
sendiri. Jika sekolompok orang ini berkumpul menjadi satu atau sengaja
dikumpulkan, maka akan sangat mudah dimanfaatkan untuk
kepentingan-kepentingan tertentu.
Dalam gerakan agama sempalan, biasanya mereka lebih memilih menjadikan
pandangan tokoh atau ulama yang keras dan kritis terhadap pemerintah.
Karena mereka beranggapan, kelompok ulama yang memiliki pandangan moderat
telah terkooptasi dan bersekongkol dengan penguasa. Sehingga ajaran Islam
yang moderat dan rahmatan lil alamin itu tidak mereka ambil bahkan
dijauhkan dan mereka lebih memilih pemahaman yang keras dari ulama yang
yang kritis tersebut. Dari sinilah lalu, maka pemikiran garis keras Islam
sesungguhnya sangat kecil, dan tidak mencerminkan wajah Islam yang
sebenarnya. Namun gerakan dan tindakannya yang nekat dan tidak terkontrol,
menjadikan wajah Islam yang moderat dan mayoriats itu seolah tertutup dan
hilang.
Maka tugas kita adalah mengembalikan fungsi ulama sebagai pengawal
masyarakat dari penyimpangan-penyimpangan pemahanan dan akidah, serta
mengembalikan lagi kepercayaan ummat yang putus asa dengan kondisi sosial
yang ada, untuk tidak lebih tergelincir jauh kepada kelompok yang
cenderung menghalalkan segala cara untuk melakukan proses perubahan sosial
yang berlandaskan pada ajaran agama. Dalam hal ini kelompok moderat Islam
harus lebih disuport dan dibantu, ketimbang energi kita hanya dikuras
untuk menghabisi kelompok-kelompok radikal saja.
V. Faktor Psikologis:
Faktor ini sangat terkait dengan pengalaman hidup individual seseorang.
Pengalamannya dengan kepahitan hidupnya, linkungannya, kegaggalan dalam
karir dan kerjanya, dapat saja mendorong sesorang untuk melakukan
perbuatan-perbuatan yang menyimpang dan anarkis. Perasaan yang menggunung
akibat kegagalan hidup yang dideranya, mengakibatkan perasaan diri
terisolasi dari masyarakat. Jika hal ini terus berlangsung tanpa adanya
pembinaan dan bimbingan yang tepat. Orang tersebut akan melakukan
perbuatan yang mengejutkan sebagai reaksi untuk sekedar menampakkan
eksistensi dirinya.
Dr. Abdurrahman al-Mathrudi pernah menulis, bahwa sebagian besar orang
yang bergabung kepada kelompok garis keras adalah mereka yang secara
pribadi mengalami kegagalan dalam hidup dan pendidikannya. Mereka inilah
yang harus kita bina, dan kita perhatikan. Maka hendaknnya kita tidak
selalu meremehkan mereka yang secara ekonomi dan nasib kurang beruntung.
Sebab mereka ini sangat rentan dimanfaatkan dan dibrain washing oleh
kelompok yang memiliki target terorisme tertentu.
VI. Faktor Pendidikan:
Sekalipun pendidikan bukanlah faktor langsung yang dapat menyebabkan
munculnya gerakan terorisme, akan tetapi dampak yang dihasilkan dari suatu
pendidikan yang keliru juga sangat berbahaya. Pendidikan agama khususnya
yang harus lebih diperhatikan. Ajaran agama yang mengajarkan toleransi,
kesantunan, keramahan, membenci pengrusakan, dan menganjurkan persatuan
tidak sering didengungkan. Retorika pendidikan yang disuguhkan kepada
ummat lebih sering bernada mengejek daripada mengajak, lebih sering
memukul daripada merangkul, lebih sering menghardik daripada mendidik.
Maka lahirnya generasi umat yang merasa dirinya dan kelompoknyalah yang
paling benar sementara yang lain salah maka harus diperangi, adalah akibat
dari sistem pendidikan kita yang salah. Sekolah-sekolah agama dipaksa
untuk memasukkan kurikulum-kurikulum umum, sememtara sekolah umum alergi
memasukan kurikulum agama.
Dan tidak sedikit orang-orang yang terlibat dalam aksi terorisme justru
dari kalangan yang berlatar pendidikan umum, seperti dokter, insinyur,
ahli teknik, ahli sains, namun hanya mempelajari agama sedikit dari luar
sekolah, yang kebenaran pemahamananya belum tentu dapat
dipertanggungjawabkan. Atau dididik oleh kelompok Islam yang keras dan
memiliki pemahaman agama yang serabutan.
Demikianlah penjabaran enam faktor penyulut terorisme, semoga dapat
bermanfaat. Tugas kita ke depan tentu sangat berat, maka diperlukan
kerjasama yang sinergeis antara semua elemen bangsa, baik ulama,
pemerintah, dan masyarakat untuk mengikis tindakan terorisme sampai ke
akar-akarnya. Paling tidak langkah itu dapat dimulai dengan cara
meluruskan paham-paham keagamaan yang menyimpang oleh ulama, menciptakan
keadilan dan stabilitas ekonomi dan politik oleh pemerintah. Serta
menciptakan suasana kondusif bagi tumbuhnya tatanan masyarakat yang damai,
toleran, aman, merdeka, religius, bertaqwa dan memiliki semangat kecintaan
tanah air yang kuat.
Dengan langkah ini kita memohon kepada Allah Swt, semoga bangsa dan negara
kita terlindung dari bahaya terorisme, sesuai dengan janji dan spirit
al-Qur’an:
Yang artinya: Seandainya penduduk suatu kaum itu beriman dan bertakwa,
maka niscaya akan kami bukakan pintu berkah kepada mereka dari arah langit
dan bumi, akan tetapi mereka mendustkan (agama), maka akan kami binasakan
mereka akibat dari perbuatanya itu sendiri (Q.S. al-A’raf: 69).
Pengajian: Ujian Keimanan Umat Islam
Marilah kita merenungkan salah satu firman Allah dalam surat
Al-‘Ankabut ayat 2 dan 3:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
“Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan
sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi
pernyataan iman kita, adalah kita harus siap menghadapi ujian yang
diberikan Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada kita, untuk membuktikan
sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan iman,
apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan
kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan
tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat,
ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti
yang digambarkan Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ankabut ayat
10:
Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman
kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman)
kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan
sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan
berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah
Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia”?
Bila kita sudah menyatakan iman dan kita mengharapkan manisnya buah iman
yang kita miliki yaitu Surga sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah
Subhannahu wa Ta’ala. Maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi
ujian yang akan diberikan Allah kepada kita, dan bersabarlah kala ujian
itu datang kepada kita. Allah memberikan sindiran kepada kita, yang ingin
masuk Surga tanpa melewati ujian yang berat.
Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada
kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian?
Mereka ditimpa malapetaka dan keseng-saraan, serta digoncangkan (dengan
bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang
beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”
Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”.
(Al-Baqarah 214).
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam mengisahkan betapa beratnya
perjuangan orang-orang dulu dalam perjuangan mereka mempertahankan iman
mereka, sebagaimana dituturkan kepada shahabat Khabbab Ibnul Arats
Radhiallaahu anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
המגמ�ע דמ�זמ ומזע גמ�עהמדןוע המךןוע�מ�ן �נונ�מ��נ �הע�מ�נךע�נ ומ� �ןטעזמ
�נ�מ�ונחנ ונזע המ�עום �מטע �מ�מ�ם ומ� ךמ�ע�נבןחן �מהנדמ �מזע �נךעזנחנ
טמךןטע�מ�ן �העונזע�מ��ן �מהמי ונבע�מגנ �מ�ע�נחנ במךמ�ןגסן �נ��עזמךעזנ ומ�
ךמ�ע�נבןחן �מהנדמ �מזע �נךעזנחנ. (�ט�ח �ה����ך).
Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir
dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan
tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang
diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tidak
memalingkannya dari agamanya
Ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah berbeda-beda. Dan
ujian dari Allah bermacam-macam bentuknya, setidak-nya ada empat macam
ujian yang telah dialami oleh para pendahulu kita:
Yang Pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti
perintah Allah kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk menyembelih putranya
yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan
mungkin tidak masuk akal, bagaimana seorang bapak harus menyembelih
anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan
kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Allah
sendiri mengatakan:
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (Ash-Shaffat 106).
Dan di sini kita melihat bagaimana kualitas iman Nabi Ibrahim
Alaihissalam yang benar-benar sudah tahan uji, sehingga dengan segala
ketabahan dan kesabarannya perintah yang sangat berat itupun dijalankan.
Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim Shallallaahu alaihi wa salam dan
puteranya adalah pelajaran yang sangat berat itupun dijalankannya.
Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang
sangat berharga bagi kita, dan sangat perlu kita tauladani, karena
sebagaimana kita rasakan dalam kehidupan kita, banyak sekali perintah
Allah yang dianggap berat bagi kita, dan dengan berbagai alasan kita
berusaha untuk tidak melaksanakannya.
Yang Kedua: Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan seperti
halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf Alaihissalam yang diuji dengan seorang
perempuan cantik, istri seorang pembesar di Mesir yang mengajaknya
berzina, dan kesempatan itu sudah sangat terbuka, ketika keduanya sudah
tinggal berdua di rumah dan si perempuan itu telah mengunci seluruh pintu
rumah. Namun Nabi Yusuf Alaihissalam membuktikan kualitas imannya, ia
berhasil meloloskan diri dari godaan perempuan itu, padahal sebagaimana
pemuda umumnya ia mempunyai hasrat kepada wanita. Ini artinya ia telah
lulus dari ujian atas imannya.
Sikap Nabi Yusuf Alaihissalam ini perlu kita ikuti, di saat pintu-pintu
kemaksiatan terbuka lebar, pelacuran merebak di mana-mana, minuman keras
dan obat-obat terlarang sudah merambah berbagai lapisan masyarakat,
sampai-sampai anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar pun sudah
ada yang kecanduan. Kita dituntut untuk selalu bisa menjaga diri kita,
keluarga kita dan orang-orang sekeliling kita agar tidak terjerembab dalam
kubangan kemaksiatan, serta menanamkan sifat mulia Nabi Yusuf Alaihi al
Salam dalam diri kita dan orang-orang disekeliling kita.
Yang Ketiga: Ujian yang berbentuk musibah seperti terkena penyakit,
ditinggalkan orang yang dicintai dan sebagainya. Sebagai contoh, Nabi
Ayyub Alaihissalam yang diuji oleh Allah dengan penyakit yang sangat
buruk sehingga tidak ada sebesar lubang jarum pun dalam badannya yang
selamat dari penyakit itu selain hatinya, seluruh hartanya telah habis
tidak tersisa sedikitpun untuk biaya pengobatan penyakitnya dan untuk
nafkah dirinya, seluruh kerabatnya meninggalkannya, tinggal ia dan
isterinya yang setia menemaninya dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah
ini berjalan selama delapan belas tahun, sampai pada saat yang sangat
sulit sekali baginya ia memelas sambil berdo’a kepada Allah:
“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayuub ketika ia menyeru
Tuhan-nya;” Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan
siksaan”.
Dan ketika itu Allah memerintahkan Nabi Ayyub Alaihissalam untuk
menghantamkan kakinya ke tanah, kemudian keluarlah mata air dan Allah
menyuruhnya untuk meminum dari air itu, maka hilanglah seluruh penyakit
yang ada di bagian dalam dan luar tubuhnya. Begitulah ujian Allah kepada
NabiNya, masa delapan belas tahun ditinggalkan oleh sanak saudara
merupakan perjalanan hidup yang sangat berat, namun di sini Nabi Ayub
Alaihissalam membuktikan ketangguhan imannya, tidak sedikitpun ia merasa
menderita dan tidak terbetik pada dirinya untuk menanggalkan imannya. Iman
seperti ini jelas tidak dimiliki oleh banyak saudara kita yang tega
menjual iman dan menukar aqidahnya dengan sekantong beras dan sebungkus
sarimi, karena tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang mungkin tidak
seberapa bila dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Nabi Ayyub
Alaihissalam ini.
Yang Keempat: Ujian lewat tangan orang-orang kafir dan orang-orang yang
tidak menyenangi Islam. Apa yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallaahu
alaihi wa salam dan para sahabatnya terutama ketika masih berada di Mekkah
kiranya cukup menjadi pelajaran bagi kita, betapa keimanan itu diuji
dengan berbagai cobaan berat yang menuntut pengorbanan harta benda bahkan
nyawa. Di antaranya apa yang dialami oleh Rasulullah di akhir tahun
ketujuh kenabian, ketika orang-orang Quraisy bersepakat untuk memutuskan
hubungan apapun dengan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam beserta
Bani Abdul Muththolib dan Bani Hasyim yang melindunginya, kecuali jika
kedua suku itu bersedia menyerahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
salam untuk dibunuh. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam bersama
orang-orang yang membelanya terkurung selama tiga tahun, mereka mengalami
kelaparan dan penderitaan yang hebat. Namun penderitaan itu tidak sedikit
pun mengendorkan semangat Rasulullah dan para shahabatnya untuk terus
berdakwah dan menyebarkan Islam.
Sebagai orang-orang yang telah menyatakan iman, kita harus mempersiapkan
diri untuk menerima ujian dari Allah, serta kita harus yaqin bahwa ujian
dari Allah itu adalah satu tanda kecintaan Allah kepada kita, sebagaimana
sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam, yang diriwayatkan Imam al
Tirmidzi :
“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan (ujian),
Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum Ia akan menguji mereka,
maka barangsiapa ridha, baginyalah keridhaan Allah, dan barangsiapa marah,
baginyalah kemarahan Allah”.
Mudah-mudahan kita semua diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah
dalam menghadapi ujian yang akan diberikan oleh Nya kepada kita. Amin
Ustadz Ma’luuful Anam, MA
Tafsir Surat Al-Fatihah
DALAM AL-QUR’AN, surat Al-Fatihah tercatat sebagai surat ke 114,
yang terdiri dari 7 ayat. Secara umum, ayat demi ayat serta surat demi
surat yang ada dalam al-Qur’an memanglah penting. Ia tetap menjadi
landasan spiritual yang urgen bagi setiap muslim. Keseluruhan huruf demi
huruf yang ada dalam al-Qur’an menjadi pegangan teologis kaum
muslimin yang tidak bisa ditawar lagi. Namun, secara spesifik, surat
al-Fatihah memiliki banyak “kelebihan” dibanding dengan
surat-surat lain. Atau, setidaknya, ia memiliki keistimewaan berbeda
dibandingkan dengan keistimewaan surat lain.
Sekedar menyebut salah satu keistimewaan surat al-Fatihah adalah bahwa ia
merupakan satu-satunya surat yang wajib dibaca saat seorang muslim
melakukan shalat — dan shalat sendiri merupakan satu-satunya format
ibadah vertikal yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Nabi Muhammad
Saw bahkan bersabda bahwa shalat seorang muslim tidak sah jika tidak
membaca surat al-Fatihah (Lâ sholâta liman lam yaqra’
bi-fâtihatil Kitâbi). Dalam kesempatan lain, Nabi Saw juga
menyatakan bahwa al-Fatihah merupakan induk al-Qur’an
(Ummul-Qur’ân). Masih banyak lagi maqôlah atau dedhawuhan
Nabi Muhammad Saw yang, intinya, menegaskan kelebihan surat al-Fatihah
dibanding surat-surat lain dalam al-Qur’an.
***
Mengapa surat al-Fatihah begitu urgen dan exclusive? Jika ditinjau dari
sisi contains, materi yang dibicarakan — atau tepatnya dinasehatkan
— dalam surat al-Fatihah ternyata sangatlah penting, khususnya bagi
proses rekonstruksi teologi kaum muslimin atau bahkan manusia
keseluruhannya. Berikut ini sedikit keterangan materi surat al-Fatihah
dari ayat per ayat.
[1] Bismillâhirrahmânirrahîm. “Dengan menyebut nama
Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
Ayat pertama ini menegaskan pentingnya penyebutan atau tepatnya pengakuan
manusia atas kuasa Tuhan, atas keesaan-Nya dan atas segala kebesarann-Nya.
Manusia diajarkan — dan diharuskan — mengakui ke-Maha
Pemurah-an Tuhan dan ke-Maha Penyayang-an-Nya. Di sini,
pengakuan-pengakuan itu merupakan harga mati atas setiap manusia. Jadi,
ayat ini bukan sekedar mengajarkan ‘penyebutan’ unsich atas
[nama] Tuhan, melainkan deklarasi atas kebesaran-Nya, yang pada ayat itu
direpresentasikan melalui lafadz ar-rahmân dan ar-rahîm.
[2] Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn. “Segala puji
bagi Tuhan, [yaitu] Tuhan bagi semesta alam”.
Setelah manusia mengakui segala kebesaran Tuhan, maka pada ayat kedua ini
Tuhan melalui surat al-Fatihah menasehatkan manusia supaya melakukan
pendekatan pribadi kepada-Nya, yaitu dengan cara memuji-Nya. Ini adalah
langkah pertama yang harus dilakukan manusia setelah ia menegaskan
pengakuan tadi. Sebenarnya, kebesaran Tuhan tidaklah berkurang tanpa
pujian manusia dan segenap makhluk, dan kebesaran-Nya pun tidak pula
bertambah dengan adanya pujian-pujian itu. Dengan demikian, ayat ini
sebenarnya lebih menekankan kepada pengajaran [at-Ta’lîm] dan
pendidikan [at-Tarbiyah] kepada manusia bagaimana dia berkomunikasi dengan
Tuhan yang telah dikenalnya tadi.
Pujian kepada Tuhan bukan tanpa sebab. Ia adalah pujian atas seluruh
kenikmatan yang telah diterima manusia. Kenikmatan terbesar dari Tuhan
kepada manusia, pada titik ini, adalah kenikmatan berupa pengetahuan
manusia atas Tuhannya. Ia bukan kenikmatan dalam arti sempit seperti
limpahan rezeki material dan semacamnya. Pada saat seorang hamba membaca
ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw, maka Allah Swt
mengikutinya dengan ucapan hamida-nî ‘abdî, hambaku telah
memujiku. Masih menurut Nabi Muhammad Saw, pada saat hamba mengucapkan
ayat ini, maka itu berarti hamba tersebut bersyukur kepada Tuhan, sehingga
Tuhan pun akan menambahi rezeki.
[3] Arrahmânirrahîm. “[Tuhan] Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang”.
Pengulangan pujian ini untuk sebuah penegasan. Ar-Rahmân bermakna
[Tuhan] yang Maha Pemurah, atau Pengasih. Dia mengasihi seluruh makhluk
yang ada di dunia, baik yang beriman atau yang bukan. Sedangkan
ar-Rahîm bermakna mengasihi seluruh orang-orang yang beriman kelak di
akhirat.
Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi
Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan atsnâ ‘alayya
‘abdî, hambaku telah memuji kepadaku.
[4] Mâliki Yawmiddîn. “[Tuhan] Yang menguasai hari
kiamat”.
Pengakuan sekaligus juga pujian, bahwa hanya Tuhanlah yang berkuasa pada
hari kiamat. Ini merupakan pujian ketiga berturut-turut, dan begitulah
pendidikan dari Tuhan kepada manusia.
Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi
Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan majida-nî
‘abdî, hambaku telah memujiku.
[5] Iyyâka Na’budu… “Hanya Engkaulah yang kami
sembah”…
Setelah Tuhan mengajarkan manusia untuk melakukan pendekatan dengan
memuji-Nya, maka pada ayat kelima ini Tuhan memberikan pendidikan baru :
yaitu, setelah manusia melakukan puja dan puji kepada Tuhan, manusia
meneguhkan diri dengan melakukan deklarasi untuk secara konsisten
menyembah kepada-Nya.
Pada ayat di atas, Tuhan menggunakan kalimat Iyyâka Na’budu,
yang berarti Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan bukan kalimat
Na’budu-Ka, yang berarti Kami menyembah kepada-Mu. Pada kalimat
pertama secara jelas menegasikan seluruh hal dan hanya menyembah Tuhan,
sedangkan kalimat kedua bisa bermakna Kami menyembah kepada-Mu, tapi juga
mengagungkan yang lain.
[5] wa Iyyâka Nasta’în. “…dan hanya kepada
Engkaulah kami mohon pertolongan”.
Setelah mengajari manusia tentang metode pendekatan terhadap Tuhan,
beberapa pujian serta penegasan tentang sesembahan, barulah Tuhan
mengajarkan bahwa setelah manusia melakukan hal itu semua, maka manusia
diberi “kesempatan” untuk meminta pertolongan dan
perlindungan. Dan pertolongan serta permintaan itu dilakukan manusia hanya
ditujukan kepada Tuhan, bukan yang lain. Maka tepatlah kalau Tuhan
menggunakan kalimat wa Iyyâka Nasta’în, yang berarti dan
hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
Pada saat seorang hamba membaca ayat kelima ini, sebagaimana disabdakan
oleh Nabi Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan hadza baynî
wa bayna ‘abdî, wa li-‘abdî mâ sa-ala, ini
adalah [urusan] antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku, [kuberikan]
apapun yang dia minta.
Sampai pada ayat ini, kita sebenarnya sudah bisa menangkap sebagian
falsafah dari surat al-Fatihah. Ringkasnya, hingga ayat ke 5 ini, adalah
sebagai berikut :
[i] manusia hendaklah mengenal Tuhannya, dan menjadikan Tuhannya sebagai
satu-satunya elemen penting dalam melakukan sesuatu.
[ii] manusia hendaklah melakukan pujian-pujian terhadap Tuhannya. Ia tentu
bukan bermakna sekedar pujian secara oral, melainkan meliputi juga
pengakuan penuh dari lubuk qalbu manusia atas segala kebesaran dan
keagungan Tuhan. Pujian-pujian itu merupakan alat untuk melakukan
pendekatan-pendekatan.
[iii] setelah melakukan pujian-pujian, manusia meneguhkan diri bahwa
kepada Tuhan-lah ia menyembah, dan sama sekali tidak melakukan sesembahan
atau pengagungan kepada yang lain.
[iv] setelah mengenal Tuhannya, melakukan pujian dan
pendekatan-pendekatan, serta peneguhan ketuhanan sang Tuhan, maka manusia
menyatakan diri bahwa hanya kepada-Nya pula para manusia melakukan
permintaan dan pertolongan.
[6] Ihdinas-Shirâthal Mustaqîm. “Tunjukilah kami jalan
yang lurus”,
Pengajaran Tuhan selanjutnya ; manusia tidak bisa berbuat sombong, oleh
karenanya ia diajarkan untuk selalu memohon dan meminta, yang dalam hal
ini adalah permintaan untuk sebuah kebenaran. Dan hanya kepada Tuhan
sajalah manusia itu memohon kebenaran. Makna kebenaran atau jalan yang
lurus di sini tentulah tidak sederhana, namun ia disimplifikasi pada ayat
berikutnya.
[7] Shirâthalladzîna An’amta ‘Alayhim
Ghoyril-Maghdhûbi ‘Alayhim walâdh-Dhôllîn.
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat
kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)
mereka yang sesat”.
Kenikmatan Tuhan hanyalah diberikan kepada orang-orang yang Dia kehendaki,
dan itu bukanlah kepada orang-orang yang dimurkai dan yang memilih jalan
sendiri. Abdullah ibn Abbas menyebutkan bahwa orang-orang yang telah
dianugerahi kenikmatan oleh Tuhan, di antaranya, adalah para nabi dan
orang-orang yang saleh, orang yang bersih jiwanya.
Pada saat seorang hamba membaca ayat keenam dan ketujuh, sebagaimana
disabdakan oleh Nabi Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan
— sama dengan pada ayat kelima — hadza baynî wa bayna
‘abdî, wa li-‘abdî mâ sa-ala, ini adalah
[urusan] antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku, [kuberikan] apapun
yang dia minta.
***
Demikianlah sekilas keterangan dari surat al-Fatihah. Semoga bermanfaat.
[Lasem, 18/4/2009].
M. LUTHFI THOMAFI
Penulis adalah Pengasuh PP. Al-Hamidiyyah, Lasem, Rembang, Jawa Tengah.
Pengajian: Jagalah Mata, Jagalah Hati
Oleh Ustadz Nur Rahim Yunus, LC
Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.
Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya. Untuk melihat, mengamati, dan kemudian otak ikut bekerja untuk mengambil keputusan.
Bila seseorang memiliki niat untuk melakukan amal yang baik, maka mata menuntunnya kearah yang baik pula. Dan bila seseorang berniat melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, maka mata akan menuntunnya kearah yang tidak baik pula.
Sebaliknya bisa pula terjadi, ketika mata melihat sesuatu yang menarik, lalu melahirkan niatan untuk memperoleh kenikmatan dari hal yang dilihatnya, maka hati akan mendorong mata untuk menjelajah lebih jauh lagi, agar dia memperoleh kepuasan dalam memandangnya. Sehingga Allah SWT memberikan kepada kita semua rambu-rambu yang sangat antisipatif, yaitu perintah untuk menundukkan pandangan. Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 30-31 Allah swt berfirman:
ֳ�ז׀ ַָבבו דה ַבװם״ַה ַבּׁםד. ָ׃ד ַבבו ַבֽׁדה ַבֽׁםד.
�ץבת בצבתדץִתדצהצםהף ם�ץײרץזַ דצהת ֳףָתױףַׁצוצדת זףםףֽ��ץזַ �ץׁץזּףוץדת ׀ףב�ף ֳףׂ�ףל בףוץדת ֵצהרף ַבברףוף ־ףָצםׁס ָצדףַ םףױתה�ץזהף (ַבהזׁ30) ז�ץבת בצבתדץִתדצהףַ�צ ם�תײץײתהף דצהת ֳףָתױףַׁצוצהרף זףםףֽ��תהף �ץׁץזּףוץהרף זףבףַ םץָתֿצםהף ׂצםה�ףוץהרף ֵצברףַ דףַ �ףוףׁף דצהתוףַ זףבתםףײתׁצָתהף ָצ־ץדץׁצוצהרף �ףבףל ּץםץזָצוצהרף זףבףַ םץָתֿצםהף ׂצםה�ףוץהרף ֵצברףַ בצָץ�ץזב�צוצהרף ֳףזת ֲָףֶַצוצהרף ֳףזת ֲָףֱַצ ָץ�ץזב�צוצהרף ֳףזת ֳףָתהףֶַצוצהרף ֳףזת ֳףָתהףֱַצ ָץ�ץזב�צוצהרף ֳףזת ֵצ־תזףַהצוצהרף ֳףזת ָףהצם ֵצ־תזףַהצוצהרף ֳףזת ָףהצם ֳף־ףזףַ�צוצהרף ֳףזת הצ׃ףֶַצוצהרף ֳףזת דףַ דףב��ת ֳףםתדףַהץוץהרף ֳףזת ַ�רףַָ�צםהף �ףםתׁצ ֳץזתבצם ַבתֵצׁתָףֹצ דצהת ַבׁרצּףַבצ ֳףזת ַב״ר�תבצ ַברף׀צםהף בףדת ם�תוףׁץזַ �ףבףל �ףזתׁףַ�צ ַבהרצ׃ףֱַצ זףבףַ םףײתׁצָתהף ָצֳףׁתּץבצוצהרף בצםץ�תבףדף דףַ םץ־�צםהף דצהת ׂצםה�צוצהרף ז�ץזָץזַ ֵצבףל ַבברףוצ ּףדצם�נַ ֳףםרץוףַ ַבתדץִתדצהץזהף ב�ףבר�ץדת �ץ�תבצֽץזהף (ַבהזׁ31)
Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. ” (QS. An Nuur: 30-31).
Demikianlah hal yang terjadi, sehingga ketika manusia terpuruk dalam kesesatan, maka terjadilah dialog antara mata dan hati, seperti yang dituturkan oleh seorang ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam bukunya “Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu”.
Hati berkata kepada Mata: “Kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak sehat, kau salahi firman Allah, “Hendaklah mereka menahan pandangannya” (An-Nur 30), dan kau salahi sabda Rasulullah Saw yang artinya, “Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan didapati kelezatannya di dalam hatinya”. (H.R. Ahmad)”.
Kemudian mata menjawab dan menyanggah perkataan hati.
Mata berkata: “Kau zhalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun yang menunjukkan jalan kepadamu. Engkau adalah raja yang ditaati. Sedangkan kami hanyalah rakyat dan pengikut. Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. Jika kau suruh aku untuk menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk menggembala di kebun yang dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu di tempat yang dipasangi jebakan, tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang pemimpin, engkau menjadi budak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang demikian itu karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah Saw, telah membuat keputusan bagiku atas dirimu, dengan bersabda:
“ֲבַ זֵהר �ם ַבּ׃ֿצ ד�ֹנ ֵ׀ַ ױבץֽ� ױבֽ ַבּ׃ֿ �ברוץ זֵ׀ַ �׃ֿ� �׃ֿ ַבּ׃ֿ �ברו ֲבַזום ַ�בָץ” {ׁזַו ַבװם־ַה}.
“Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati.” (H.R. Bukhori Muslim).
Abu Hurairah Ra. Berkata, “Hati adalah raja dan seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula pasukannya. Jika raja buruk, buruk pula pasukannya”. Jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu (wahai hati), dan kebaikan mereka adalah karena kebaikanmu. Jika engkau rusak, rusak pula para pengikutmu. Lalu engkau lemparkan kesalahanmu kepada mata yang tak berdaya. Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta kepada Allah, tidak menyukai dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, ‘asma dan sifat-sifat-Nya. Engkau beralih kepada yang lain dan berpaling dari-Nya. Engkau berganti mencintai selain-Nya.”
Demikianlah, mata dan hati, sepasang sekutu yang sangat serasi. Bila mata digunakan dengan baik, dan hati dikendalikan dengan keimanan kepada Allah SWT, maka kerusakan dan kemungkaran dimuka bumi ini tak akan terjadi. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerusakan dan bala bencanalah yang senantiasa menyapa kita.
Tentang menahan pandangan mata, Imam Ibn al-Qoyyim mengatakan dalam kitabnya, al-Jawab al Kafi hal. 129: “Pandangan mata adalah duta syahwat. Menjaga pandangan adalah pangkal penjagaan farj (kemaluan). Barang siapa melepas bebas pandangan matanya, berarti telah mengiring dirinya menuju lubang-lubang kehancuran.
Nabi saw bersabda:
“םַ �בם בַ ��ָ� ַב�ֹׁ ַב�ֹׁ¡ �ֵהדַ � ַבֳזבל”
Artinya: “Wahai Ali, janganlah engkau turutkan kilasan pandangan (pertama) dengan pandangan (berikutnya). Tidak mengapa untukmu kilasan awal pandangan.”
Maksud ‘kilasan’ awal pandangan adalah kilasan pandangan spontanitas yang terjadi tanpa kesengajaan” Imam Ibn Qoyyim mengatakan didalam musnad al-imam ahmad ibn hambal, tertera hadist dari Rasulullah saw:
“ַב�ׁ ׃וד ד׃דזד דה ׃וַד ֵָבם׃.”
“Pandangan mata itu laksana anak panah yang beracun dari anak panah-anak panah iblis”
Selanjutnya beliau (Imam Ibn Qoyyim) mengatakan: “Pandangan mata adalah pangkal segala bencana yang menimpa manusia, karena pandangan itu melahirkan detikan hati; detikan hati melahirkan pikiran melayang; pikiran melayang melahirkan nafsu birahi; nafsu birahi melahirkan hasrat; hasrat itu kemudian menguat sampai menjadi tekad yang kuat. Karenanya, tidak boleh tidak, akan terjadilah perbuatan, selagi tidak ada sesuatu hal yang menghalangi”. Oleh sebab itu, ada pujangga yang mengatakan: “Bersabar menahan pandangan mata adalah lebih mudah daripada bersabar terhadap pedihnya derita setelah pandangan itu”.
Karena itu sudah sewajarnya kita menahan pandangan mata dari memandang lelaki atau memandang wanita. Hendaklah kita tidak melihat gambar-gambar yang yang merangsang, yang dipancang di sebagian majalah atau digelar di layar televisi maupun video. Dengan itu, niscaya kita selamat dari dampak buruk. Berapa banyak kilasan pandangan mata yang menyeret seseorang menuju penyesalan dan kegelisaan yang tak berujung. Gejolak api yang membara terjadi akibat percikan api yang dipandang kecil.
Oleh karena itu, sepatutnyalah kita sebagai manusia yang lemah selalu berdo’a dan memohon kepada Allah swt agar Ia selalu membimbing hati-hati kita, dan agar kita mampu membimbing hati-hati kita kejalan yang Ia ridhoi. Dan semoga kita mampu membawa dan menjaga amanah nikmat memandang, sehingga kita tidak menyalahi anugrah terbesar ini untuk melihat hal-hal yang tidak Ia ridhoi.
Ya Allah, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan hati kami dengan keimanan kepada-Mu, mengutamakan cinta kepada-Mu, dan tidak pernah berpaling dari-Mu.
Ya Allah, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan mata/ pandangan kami kearah yang Engkau ridhoi. Jauhkan kami dengannya menuju penglihatan dari pandangan-pandangan yang Engkau haramkan sehingga menyebabkan kami terjerumus kejurang maksiat..
Allaahumma ‘aafina fii badaninai, Allaahumma ‘aafina fii sam’ina, Allahumma ‘aafina fii qolbinaa, Allaahumma ‘aafina fii bashorina. Aamiin.